Taman Nasional Komodo, with or without the contest it’s still the Wonder of The World

Akhir-akhir ini kita diramaikan dengan pemberitaan keikutsertaan Indonesia dalam ajang pencarian 7 Keajaiban Alam Baru Dunia yang diadakan oleh non-governmental organzation (NGO) New 7 Wonders Foundation. Indonesia menominasikan Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai wakilnya dan voting akan ditutup pada tanggal 11 November 2011. Keikutsertaan TNK dalam ajang ini tidak sepenuhnya disambut antusias oleh masyarakat, namun juga mengundang kritik dari banyak pihak.

New 7 Wonders Foundation adalah lembaga non-profit yang berpusat di kota Zurich, Swiss. Bergerak dalam bidang pelestarian cagar alam, lembaga yang didirikan oleh Bernard Weber pada tahun 2001. Proyek pertama mereka yaitu New Seven Wonders of The World bertujuan untuk mencari keajaiban dunia baru, dengan cara melakukan pemilihan terbuka melalui internet dan bersifat global. 7 Juli 2007 diumumkan finalis peraih suara terbanyak dan mereka menghadiahkan para juara dengan status “Keajaiban Dunia Baru”. Pemenang kontes tersebut adalah Chicen Itza (Meksiko), Patung Kristus (Brazil), Tembok Besar Cina, Machu Picchu (Peru), Petra (Yordania), Roman Colosseum (Italia), dan Taj Mahal (India).

New7Wonders

Kemudian pada 2007 New 7 Wonders Foundation kembali mengadakan kontes serupa, mencari keajaiban dunia baru, kali ini yang terbentuk secara alamiah (bukan buatan manusia). Indonesia sebagai salah satu peserta mengajukan 3 objek yaitu Taman Nasional Komodo, Danau Toba, dan Anak Krakatau. Setelah pihak New7Wonders melakukan survei, akhirnya mereka memilih Komodo, karena keunikan dan kelangkaannya. Setelah melalui voting tahap awal, Komodo lolos ke tahap final dimana 28 finalis akan dipilih secara terbuka dan global, dan tidak ada larangan multiple votes atau tidak ada batas berapa kali voters memilih. Cara pemilihan inilah yang membuat Maladewa mundur dari ajang ini, karena menganggap cara kerjanya tidak transparan dan jelas.

Komodo Island

Komodo Dragon

Mantan Kemenbudpar Jero Wacik menyatakan bahwa Indonesia ditawari oleh pihak penyelenggara kontes ini untuk menjadi tuan rumah diadakannya pengumuman pemenang New 7 Wonders of Nature yang jatuh pada tanggal 11 November 2011 dengan persyaratan pihak tuan rumah harus membayar 10 juta USD, disamping biaya penyelenggaraan pengumuman tersebut sebesar 35 juta USD. Wacik lantas menolak tawaran itu dengan pertimbangan biaya yang harus dikeluarkan terlampau besar untuk kegiatan semacam ini, jika ditotal 45 juta USD atau sebesar 450 miliar rupiah (kurs 1 USD=10.000 rupiah). Masih menurut Wacik, pihak New7Wonders lalu mengancam akan mengeliminasi Komodo jika tawaran tersebut ditolak, dan dengan tegas beliau tetap menolak tawaran itu.

Argumen Jero Wacik jelas, beliau tidak ingin diancam dengan yayasan dunia yang kredibilitasnya masih dipertanyakan, apalagi sejak 2007 badan PBB yang bergerak di bidang pendidikan, ilmiah, dan budaya atau UNESCO tidak mendukung kegiatan maupun aktifitas dari New 7 Wonders Foundation. UNESCO mengatakan, “tidak ada yang bisa dibandingkan antara kampanye media yang dilakukan Tuan Weber dengan pekerjaan ilmiah dan proses pendidikan yang kami lakukan di UNESCO sehingga menghasilkan daftar situs-situs Warisan Dunia”. Dengan kata lain, situs-situs yang nantinya terjaring menjadi 7 Keajaiban Baru Dunia yang dirancang New 7 Wonders Foundation tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahan nilai “ajaibnya” karena sistem pemilihannya adalah polling secara terbuka sehingga tidak hanya ilmuwan yang berhak menentukan, namun semua masyarakat.

World Heritage

UNESCO selama ini dikenal dengan kegiatannya yang meliputi pelestarian cagar alam dan budaya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Setelah pemerintah menarik diri dari kegiatan ini, sekelompok aktivis lingkungan yang tergabung dalam Pendukung Pemenangan Komodo (P2Komodo) berupaya melanjutkan pencalonan komodo dalam ajang ini. Mereka menyesalkan apa yang terjadi antara pemerintah RI dan pihak New7Wonders, dan menyatakan bahwa ajang ini dapat membantu melestarikan populasi komodo dan mengenalkan Komodo sebagai objek wisata level dunia. Disamping itu hal ini dapat meningkatkan pariwisata dalam negeri.

When the government fails, the people will take the lead“. Ketika pemerintah gagal, rakyat yang akan mengambil alih. Sepenggal kalimat ini dikutip dari salah satu artikel dalam The Jakarta Post tanggal 28 Oktober 2011, yang menggambarkan perjuangan Komodo sebagai Keajaiban Dunia Baru.

Kampanye Komodo

P2Komodo mengajak figur-figur nasional dalam kampanye komodo, seperti mantan wapres Jusuf Kalla dan grup band legendaris Slank. Strategi ini terbukti berhasil dimana pesan-pesan singkat melalui SMS, BBM, bahkan email dengan cepat menyebar untuk mendukung wakil dari Indonesia itu.

Jika pencalonan yang dilakukan P2Komodo ini tidak mengeluarkan biaya seperti yang sebelumnya ditawari kepada pemerintah, hal ini tentu menjadi sesuatu yang sangat baik dan membawa keuntungan tersendiri.

Menurut saya sisi positif yang bisa diambil dari pencalonan Komodo dalam ajang ini adalah pertama, masyarakat pantas berbangga hati karena Indonesia memiliki sebuah situs “Keajaiban Dunia” sampai masuk pada tahap 28 besar melalui proses voting yang terbuka dan global, menyisihkan 400 keajaiban alam lain dari 220 negara. Kedua, peningkatan intensitas pariwisata dapat memberikan dampak positif terhadap masyarakat lokal.

Yang menjadi catatan adalah, dengan atau tanpa ajang seperti New 7 Wonders of Nature ini, kita khususnya pemerintah dan masyarakat sudah seharusnya menjaga dan mengelola dengan baik tempat-tempat tujuan wisata yang kita miliki. Faktor penopang seperti sarana dan prasarana harus diperbaiki dan dilengkapi agar turis yang datang mendapat kesan positif. Fasilitas transportasi dan akomodasi harus dilengkapi, seperti penginapan yang layak, tempat makan, air bersih, dan fasilitas pelengkap lain yang mungkin akan menambah daya jual tempat wisata.

Kerjasama pemerintah-masyarakat lokal harus lebih ditingkatkan, dimana pemerintah melakukan publikasi dan advertising, sedangkan masyarakat ikut mengelola dan menjaga. Keselarasan hubungan keduanya niscaya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, serta membawa pariwisata sebagai sektor unggulan bagi pendapatan nasional.

Komodo Island underwater

Referensi:

http://www.new7wonders.com/28-finalists

http://news.n7w.com/2011/10/30/people-power-in-indonesia-for-komodo/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=people-power-in-indonesia-for-komodo

http://berita.liputan6.com/read/349627/p2-komodo-sesalkan-langkah-pemerintah

http://www.detiknews.com/read/2011/02/02/215541/1559496/10/penjelasan-panjang-lebar-jero-wacik-soal-polemik-pulau-komodo

http://www.thejakartapost.com/news/2011/10/28/public-initiatives-revive-komodo-voting.html

http://www.7wonders.org/wonders/new-seven-wonders.aspx

http://id.berita.yahoo.com/komodo-dan-nasionalisme-buta-kita.html;_ylt=AuvZUOrvnxMYO1tRWkXD0bWDV8d_;_ylu=X3oDMTFnaGg5MmlzBG1pdANOZXcgRWRpdG9ycyBQaWNrcwRwb3MDMQRzZWMDTWVkaWFFZGl0b3JQaWNrcw–;_ylg=X3oDMTMwMGdnY3JiBGludGwDaWQEbGFuZwNpZC1pZARwc3RhaWQDOTQzYjAzNDgtYjc5OC0zMjkyLTljNTUtMDNiMGU2OWUwOThiBHBzdGNhdANpbnRlcm5hc2lvbmFsBHB0A3N0b3J5cGFnZQ–;_ylv=3

2 thoughts on “Taman Nasional Komodo, with or without the contest it’s still the Wonder of The World

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s